Pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan. Menurut konsep konseling pribadi sehat memiliki kepribadian pokok sebagai berikut ;

1. Ego berfungsi penuh, Serta serasinya fungsi id, ego dan superego
Menurut Frued, Pribadi sehat adalah pribadi yang egonya befungsi secara penuh, serasi antara id, ego dan Superego. Struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu id, ego dan superego.ketiga dimensi tersebut saling berhubungan, walaupun masing-masing memiliki sifat, fungsi, tujuan dan kedudukan yang berbeda
Pribadi akan menjadi sehat apabila ego dapat menjalankan fungsinya dengan penuh sebagai eksekotif, pengendali, pengatur kepribadian, polisi lalu lintas bagi id dan superego, dan sebagai mediator rasional dari pengaruh biologis (id) dan kultural.
Menurut ayat Al-Qur’an, ego itu selaras dengan akal, id selaras dengan nafsu,dan superego selaras dengan kalbu. Pribadi sehat adalah apabila akal dengan didukung oleh kalbu berfungsi dengan baik dalam mengendalikan nafsunya.
Untuk mengandalikan nafsu selain memfungsikan akal secara maksimal, juga harus memfungsikan kalbu secara baik. Kalbu sebagai sumber moral yang bersumber dari nilai-nilai ilahiyah merupakan pertimbangan final atas dorongan nafsu dan rasional akal. Kalbu akan menjadikan hidup manusia selalu berada dijalur kebenaran yang hakiki. Jika kalbuberfungsi dengan penuh manusia akan mampu
membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Firman Allah Swt

Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.( Al-Hajj : 46)
Dalam Hadis Nabi Saw dikatakan bahwa kalbu adalah sentral dari kepribadian yang sehat. Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitabnya Juz 1 (1992:23) Yang artinya ;
Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik juga semua tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya, ingatlah ia adalah hati (Kalbu). (H.R Bukhari)“
Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang berfungsi akalnya dengan baik akan selalu berdo’a kepada tuhannya gar kalbunya dihindarkan dari kesesatan, tetap dalam petunjuk-Nya. Firman Allah Swt
“(mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)".(Al-Imran : 8)
Nafsu akan dapat terkendali dengan baik apabila akal dan kalbu berfungsi secara penuh, dan pada saatnya akan melahirkan perilaku yang sehat, dimana dorongan nafsu dapat terpenuhi dengan wajar melalui tingkah laku yang terkontrol oleh rasional akal dan dilandasi oleh nilai-nilai moral yang berlaku melalui pertimbangan kalbu.
Jadi pribadi yang sehat adalah pribadi yang dapat menyerasikan fungsi id, ego dan superego, dengan kata lain dapat menyeimbangkan antara fungsi, nafs, Kalbu dan akal.

2. Bebas dari kecemasan
Kecemasan merupakan perasaan tidak menentu, panik, takut tanpa sebab yang menyebabkan timbulnya perasaan yang berkecamuk, karena itu, sebaliknya akan berusaha untuk mengatasi kegelisahan itu dengan mencari cara pemecahannya.
Apabila ego berfungsi dengan penuh, maka akan bisa menyerasikan fungsi id, ego dan superego berfungsi secara serasi maka orang akan terbebas dari kecemasan realita, neurotik dan moral. (Corey, 1996 ; 95).
Pendekatan eksistensial juga memandang, bahwa pribadi yang sehat adalah pribadi yang terbebas dari kecemasan, yaitu kecemasan neurotic. Ada dua kecemasan menurut pendekatan eksistensial , yaitu kecemasan biasa dan kecemasan neurotic. Kecemasan biasa adalah kecemasan yang bisa memberi dorongan motivasi, sedang kecemasan neurotic adalah kecemasan yang bisa menghilangkan keseimbangan seseorang. Pribadi akan menjadi sehat apabila terhindar dari kecemasan neurotic.
Kecemasan merupakan kondisi hidup manusia yang dalam Al-Quran dikatakan sebagai bagian dari ujian Allah Swt. Karena itu, maka manusia harus bisa menghadapi ujian itu dengan baik, tentunya kecemasan neurotic yang dapat mengganggu keseimbangan kepribadian manusia.
Orang yang terbebas dari kecemasan (kecemasan neurotic), akan memiliki kepribadian stabil, sebab hati mereka menjadi tentram. Firman Allah Swt ;
            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’du : 28).
Orang yang ingat kepada Allah merasa yakin bahwa allah adalah“maha pembimbing dan pelindung“, sehingga akan merasa tenang dan tentram.orang yang mampu membebaskan diri dari kecemasan adalah orang yang memiliki predikat sebagai auliya allah. Firman Allah Swt ;
          
„Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.“( Q.S. Yunus : 62)
Dalam beberapa ayat Al-Quran diterangkan, orang yang bebas dari kecemaan adalah (1) dengan mempertebal keimanan (2) memperbanyak amal saleh, (3) menguatkan ibadah shalat (4) kesadaran mengeluarkan zakat, (5) memperbanyak zikir Kepada Allah Swt, (6) selalu berusaha mengadakan perbaikan diri. Hal ini antara lain dijelaskan dalam ayat berikut
                
„Dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan Mengadakan perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati“.( Q.S. Al-An’am : 48)

3. Keterbukaan terhadap pengalaman
Keterbukaan terhadap pengalaman adalah merupakan salah satu ciri pribadi sehat, yaitu pribadi yang mau dan bersedia membuka diri dari berbagai masukan dan informasi dari luar terutama dalam hal yang baik-baik yang bisa memperbaiki dan memajukan pribadinya. Firman Allah Swt
                             
Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,
Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.( Q.S. Az-Zumar : 17-18)
Dalam menerima pengalaman, hendaknya tidak memandang kepada siapa yang menyampaikan, tetapi melihat kepada kualitas dan kebenaran apa yang disampaikan atau pengalaman itu sendiri.
Orang yang mempunyai keterbukaan dalam pengalamannya merupakan salah satu indikasi pribadi yang sehat, mereka cepat maju dalam kehidupannya, cepat menyesuaikan, sehingga keberuntungan akan didapatnya.

4. Percaya Diri
Orang yang pecaya diri akan mau bekerja keras dalam berusaha, tidak putus asa dalam kegagalan, suka melakukan instropeksi, dan berusaha untuk memperbaiki dari kekurangan yang ada pada dirinya, sehingga mereka terhindar dari prilaku tercela dan sesat. Firman Allah Swt.
                     
Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(Q.S. Yusuf: 87)
             •    •      
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Q.S. Az-Zumar : 53)
Dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa kepercayaan diri ini berada pada pribadi yang istiqamah, yaitu pribadi yang konsisten dan konsekuen dalam memegang teguh keimanan kepada Allah Swt. Sehingga mereka tidak ada rasa takut kepada apapun dan siapapun kecuali terhadap Allah Swt. Serta tidak merasa hina, sebab mereka merasa percaya diri bahwa keselamatan dan keberuntungan sedang menunggu mereka.

5. Sumber Evaluasi Internal
Sumber evaluasi internal yaitu yang mengevaluasi perbuatan apapun yang dilakukan, melalui berfikir, bersikap dan berbuat, adalah dirinya sendiri, sebab manusia memiliki hati nurani yang selalu lurus dan benar. Dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai pribadi muhsin.
Orang yang muhsin adalah pribadi yang menggunakan kata hati yang dilandasi oleh iman kepada Allah Swt, dalam mengevaluasi prilakunya, sebab Allah selalu hadir bersama kita dan mengetahui apapun yang kita lakukan baik yang terang ataupun yang tersembunyi. Firman Allah :
                        
Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( Q.S. Ali- Imran : 29)

                             •         
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(Q.S. Ar-Radu)

     •                    •        
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,.(yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. ( Q.S. Qaaf : 16 -18).
Orang yang memiliki keyakinan bahwa yang mengevaluasi dirinya kata hati yang dilandasi iman kepada Allah Swt. Maka kapan pun dan dimanapun dia berada, sekalipun di tempat yang sepi dan tersembunyi dari prnglihatan manusia, maka perbuatannya selalu jujur, baik dan benar, sebab dalam berbuat mereka akan selalu merasa diperhatikan dan dilihat oleh Allah yang pengetahun-Nya tidak terbatas waktu dan tempat.

6. Kongruensi
Kongruensi adalah serasinya antara konsep diri dan pengalaman riil. Dalam Al-Qur’an sifat kongruen ini termuat dalam sifat shiddiq, walaupun shiddiq mengandung arti yang lebih luas dari kongruen.
Menurut bahasa shiddiq berarti benar, nyata, keadaan yang benar dan nyata, kesungguhan, keikhlasan dan kutulusan, yang serasi antara ucapan dengan perbuatan (Al Munawwir, 1984 : 823)
Orang yang shiddiq tidak akan mengingkari kenyataan, ia akan mampu menerima kenyataan dan bersikap objektif dalam segala hal, ia bersikap benar dan realistis dalam hidupnya. Sebab, arti yang lain dari shiddiq adalah keikhlasan atau ketulusan, sehingga apabila suatu ketika pengalamannya yang riil berbeda dengan konsep dirinya, ia akan mampu menerimanya dengan ikhlas.
Allah mengajarkan agar hambanya selalu berdoa agar menjadi orang shiddiq dan memberikan balasan kebajikan kepada orang yang memiliki sifat shiddiq. Firman Allah Swt.
              
“Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (Shiddiq) dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar (shiddiq) dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.“(Q.S. Al-Isra :80)
            •     
“Supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar (Shiddiq) itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.( Q.S. Al-Ahzab :24)
Dari uraian dan ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa sifat-sifat shiddiq juga memuat makna dari kungruensi, yaitu keserasian antara konsep diri dan pengalaman riil.

7. Menerima Pengalaan dengan Bertanggung jawab
Pribadi yang mau menerima pengalaman itu adalah orang yang mau mengakui apa yang ia lakukan atau alami sekalipun itu berupa kesalahan dan kelalaian, sekaligus mau mempertanggungjawabkan atas pengalamannya . Firman Allah Swt.
             
“ Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (Q.S. An-Nisa :110).
                       
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui“(Q.S. Al-Imran :135)
Rasullah Saw mengingatkan bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya sesuai dengan posisi dan kedudukannya. Secara rinci pertanggungjawaban ini diterangkan dalam hadis nabi Yang mempunyai arti sebagai berikut :
“Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah peminpin bagi umatnya, ia dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami pemimpin bagi k eluarganya , ia dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang istri adalah pemimpin di rumah tangga suaminya (bila suami pergi), ia dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.“ ( H.R. Bukhari)
Implikasi dari pertanggung jawaban ini, maka orang akan berbuat dengan selektif dan berusaha berbuat sebaik mungkin, sehingga apapun yang dilakukan akan berkualitas, menguntungkan dan bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain, miniman tidak merugikan orang lain atau lingkungan sosialnya.

8. Kesadaran yang meningkat untuk tumbuh secara berlajut
Pribadi yang memiliki kesadaran yang meningkat untuk tumbuh secara berlanjut akan selalu terpacu untuk melakukan perubahan pada dirinya. Menurut keterangan Al-Qur’an untuk melakukan perubahan itu harus dilakukan oleh kemauan dan usaha diri sendiri bukan menunggu orang lain yang merubahnya. Firman Allah Swt :

                  •         
”Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”( Q.S. Ar-Ra’du :11)
Orang yang memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan pada dirinya dari yang negative kepada yang positif, dari yang sudah baik kepada yang lebih baik, mereka melakukan hal itu dengan segera dan tidak menunda-nunda, sehingga mereka diberi predikat sebagai orang yang shaleh dan orang yang mendapat karunia yang besar dari Allah.

9. Tidak terbelenggu ide tidak rasional (tuntutan kemutlakan)
Ide tidak rasional sering membelenggu kepribadian, yaitu berupa tuntutan kemutlakan seperti harus, mesti, dan sejenisnya. Keberhasilan dan kegagalan yang menyertai usaha kita tidak senantiasa akan sesuai dengan harapan atau keinginan kita, tetapi terkadang sebaliknya. Firman Allah Swt ;
•   •  •            
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyirah : 5-8)
Pada dasarnya orang tidak bisa menetahui apa yang terjadi dari usahanya apakah berhasil seperti yang diharapkan atau tidak, semuanya hanya Allah yang mengetahui dan menetukan . karena manusia tidak mengetahui apa yang terjadi pada masa-masa yang akan datang, maka orang tidak boleh terbelenggu oleh tuntutan kemutlakan itu, tetapi lebih tepat dengan mengucapkan insya Allah (kalau Allah berkenan) dan bertawakkal kepada Allah.Firman Allah Swt
                          
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah"[879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".“ (Q.S. Al-Kahfi :23-24)
Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang selalu bertawakkal kepad Allah adalah orang yang mempunyai pribadi sehat, dengan bertawakkal itu lah sehingga seseorang dapt terhindar dari keputus asaan dan kekecewaan serta selalu menerima kenyataan hidup.

10. Menerima Diri sendiri
Kemampuan untuk menerima diri sendiri dengan segala kebaikan dan kekurangannya adalah merupakan bagian dari syukur nikmat. Firman Allah Swt.
    •            
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.“( Q.S. An-Nahl :78)
           
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“(Q.S. An-Nahl : 18)
         •   
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".” (Q.S. Ibrahim :7).
Dari bebrapa ayat diatas dapat dilihat bahwa sangat banyak sekali nikmat yang diberikan Allah kepada manusia, maka selayaknya lah jika manusia itu bersyukur, jika manusia itu tidak bersyukur mak allah akan memberikan azab yang sangat pedih.
Secara psikologis orang yang pandai bersyukur akan terhindar dari perasaan keluh kesah, putus asa, dan cemas, tetapi sebaliknya akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam jiwanya yang membuahkan dampak positif dalam tindakan.
Jadi, dapat diambil kesimpulan orang yang bersyukur adalah orang yang mempunyai kejiwaan yang tentram sehingga ia dapat dikatakan sebagai orang yang mempunyai pribadi yang sehat


11. Mau berkarya, menyumbang serta memberi dan menerima
Manusia akan bermakna apabila ia dapat melakukan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh dirinya dan orang lain, dalam Al-Quran disebut dengan istilah amal saleh. Melakukan amal saleh merupakan perbuatan yang mulia dan Allah menjanjikan kepada pelakunya denganganjaran Syurga. Firman Allah Swt.
            •    
”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.“( Q.S. An-Nisa : 124)
                         
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".“(Q.S. Al-Kahfi : 110)
Selain mau berkarya dan menyumbang sikap mau memberi dan menerima juga merupakan indikator dari pribadi sehat, jadi orang yang selalu beramal shaleh dan mempunyai sikap yang selalu menerima itu erupakn ciri dari seseorang yang mempunyai kepribadian sehat.

12. Memandang baik diri sendiri dan orang lain ( I’m ok you are not ok)
Orang yang memandang baik dirinya dan orang lain, maka dalam berfikir dan bersikap maupun berprilaku selalu menunjukkan sikap yang positif terhadap dirinya dan orang lain seperti suka menjalin silaturahmi dengan orang lain,menghargai, suka memafkan dan meminta maaf. Firman Allah Swt
         ••     
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Al-Imran :134)
Jadi, orang yang selalu berprasangka baik kepada diri sendiri dan orang lain adalah orang yang mempunyai kepribadian yang sehat, dengan kita selalu berprasangka baik kepada orang lain, maka kita akan dapat memaafkan orang dengan mudah, tanpa adanya dendam dihati.

13. Signifikansi dan berharga bagi orang lain
Pribadi yang signifikan dan berharga bagi orang lain adalah pribadi yang ideal. Cirri-ciri pribadi ini adalah (1).Suka membantu orang lain, (2) menyebarkan kebenaran, kebaikan dan mencegah kemungkaran secara bijaksana, (3) selalu berbuat adil kepada siapa pun. Pribadi ini dianjurkan untuk dipersiapkan sedini mungkin oleh orang tua kepada anak-anaknya. Firman Allah Swt.
            • 
“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”( Q.S. Al-Furqan :74)
Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa seorang yang signifikan dan berharga adalah orang yang mampu berlaku adil, orang yang selalu menyebarkan kebajikan dan orang yang seperti itu adalah orang yang termasuk mempunyai pribadi yang sehat dalam hubungannya dengan orang lain.

14. Memenuhi kebutuhan sendiri tanpa mengganggu atau mengorbankan hak orang lain
Seperti kita ketahui manusia adalah makhluk sosial yang selalu saling membutuhkan satu sama lain, seseorang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam pemenuhan kebutuhan kita memerlukan bantuan orang lain, Maka hendaknyalah dalam pemenuhan kebutuhan ini kita tidak merugikan orang lain, seperti dalam berjual beli dan hendaknya lah kita selalu menghargai hak orang lain seperti halnya tetangga kita. Firman Allah Swt.
•     
“ Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba“ (Q.S.Al-Baqarah : 275)
                    •     
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.“ (Q.S. An-Nisa :29)
Dalam hadis nabi di jelaskan bahwa merupakan suatu tolak ukur seorang yang beriman adalah tingkah lakunya terhadap tetangganya, hadist tersebut mempunyai arti sebagai berikut;
“barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaknya ia menghormati tetangganya“ (H.R. Bukhari Muslim)
Jadi, seseorang akan disebut beriman jikaia menghormati tatangganya dan melakukan jual beli dengan sebaik-baiknya, tanpa merugikan salah saru pihak dalam melakukan jual beli.

15. Mampu berinteraksi dengan lingkungannya dan dapat menciptakan atau mengolah lingkungannya secara baik.
Manusia dibenarkan untuk menggali kekayaan alam ini semaksimal mungkin untuk kepentingan dan kesejahteraannya, namun demikian tetap harus menjaga nilai-nilai keseimbangan alam dalam arti manusia harus bisa menjalin hubungan baik dengan alam, sebab segala kerusakan yang ada dimuka bumi merupakan kelalaian dari manusia itu sendiri. Firman Allah ;
        ••       
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S.Arrum;41)
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang selalu menjaga keseimbangan alam, dan memlihara alam dengan baik adalah orang yang mampu mengatur hubungannya dengan lingkungannya

16. Mampu belajar dalam interaksi dengan lingkungannya
Al-Quran menerangkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan segala kekayaan isinya adalah untuk kepentingan manusia. Allah Swt.
    •                
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.“ (Q.S. Al-Baqarah :29 )
Sebagai manusia kita hendaknya dapat mengambil pelajaran dari nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, agar kita bersyukur.

17. Keimanan yang meningkat
Iman ialah keyakinan hati, pengakuan dengan lisan dan menyatakan dengan amal saleh serta menjauhi larangan-larangannya. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan akan memberikan keselamatan dan petunjuk-Nya. Kepada orang yang tidak mencampuri keimanannya dengan perbuatan zalim dengan penyelewengan.
Pola wawasan yang berorientasi agama berpandangan bahwa agama / kerohanian memiliki daya yang dapat menunjang kesehatan jiwa. Dan kesehatan jiwa di peroleh sebagai akibat dari keimanan dan ketaqwaan kepada tuhan, serta menerapkan tuntunan-tuntunan keagamaan dalam hidup.
Salah satu cirri orang yang keimanannya meningkat ialah apabila mereka diingatkan dan dibacakan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniah (ciptaan allah) ataupun ayat Qauliyah (firman Allah) yang menunjukkan kebesaran Allah, maka hatinya bergetar dan semakin kuat keimanannya. Firman Allah Swt.
                 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Q.S. Al-Anfal : 2 )
Jadi, orang yang mempunyai keimanan yang meningkat adalah orang yang mampu mengatur hubungannya dengan tuhannya sehingga ia dapat dikatakan mempunyai pribadi yang sehat.

18.Seimbang antara diri sebagai abidullah dan sebagai khalifatullah
Manusia di dunia ini mengemban dua tugas pokok yaitu ; sebagai pengabdi (abidullah) kepada Allah Swt. Dan sebagai pengelola (Khalifatullah) di muka bumi. Keduanya harus berjalan bersama-sama secara seimbang sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, walaupun hanya sebatas kemampuan maksimal manusia. Orang tidak dibenarkan hanya mengejar kesenangan dunia semata tetapi melupakan kehidupan akhirat begitu juga sebaliknya, tetapi kedua-duanya harus berjalan bersama-sama.
Firman Allah Swt.
                         •     
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash :77).
Apabila kedua fungsi dan kedudukan tersebut dapat dijalankan dengan seimbang yaitu fungsi sebagai abidullah dimana segala petunjuk dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam segala aspek kehidupan selalu dilakukan dalam rangak ibadah kepada Allah dengan baik dan benar, baik berupa ritual-ritual ibadah mahdhah maupun ibadah mu’amalah. Begitu juga fungsi sebagai khalifatullah yaitu mengelola dan mengolah serta memakmurkan alam dan kehidupan umat manusia didunia ini dengan baik dimanapun berada, apapun posisi, dan sekecil apapun kemampuan yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab, maka manusia akan mendapatkan keberuntungan dan kemuliaan baik dalam menjalani hidup didunia maupun diakhirat kelak.
Didunia ia akan mendapatkan kehidupan yang sejahtera, tentram dan bahagia, di akhirat ia akan mendapatkan ganjaran pahala syurga dengan segala kenikmatannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa manusia yang mempunyai dua amanat yang diemban, agar semuanya dapat berjalan dengan lancar maka keduanya harus diperlakukan dengan seimbang. Sehingga kita dapat mengemban amanat tersebut dengan baik, dan kita dapat menjalin hubungan baik dengan tuhan kita.










0 komentar:

Posting Komentar